When you run so fast to get somewhere, you miss the fun of getting there.
Life is not a race, so take it slower.
Hear the music before the song is over.
You are part of the puzzle of someone else's life.
You may never know where you fit but others will fill the holes in their lives with pieces of you.
So if you run out of reasons to live, remember that someone else's life may never be complete without you in it.

Thursday, July 4, 2013

UNTUNG-RUGINYA MENALANGI (MEM-BAILOUT) BANK CENTURY

Progres kasus dana talangan (bail out) untuk Bank Century hingga kini masih membuat baik para ekonom handal sampai masyarakat awam menjadi ‘gerah’. Benang merahnya masih sama:
Kasus Bank Century adalah ibarat merawat orang sakit yang sudah mencapai stadium akhir dengan harapan untuk selamat sangat kecil.
Opsi urgent yang harus diambil adalah antara ‘selamatkan’ atau tutup. Dan dalam hal ini aksi heroik Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) atas rekomendasi dari Bank Indonesia untuk mem-bail out dalam rangka menyelamatkan bank ini menuai berbagai pro dan kontra. Ada pihak yang menyatakan ‘untung’, yang lain menyatakan ‘rugi’ jika menalangi bank Century.

Penyelamatan Century: PRO dan KONTRA

PRO: Kebijakan bail out Bank Century memang sudah tepat.
Pendapat tersebut didasarkan pada teori-teori ekonomi yang telah diterapkan pada kasus Bank Century, yang intinya bahwa apabila Bank Century tidak segera diselamatkan akan berdampak sistemik bagi dunia perbankan Indonesia.
Lagipula, para ekonom dengan asumsi-asumsinya menyatakan bahwa skenario penyelamatan bisa jadi yang paling murah ongkosnya, sedangkan biaya penutupan bisa lebih mahal (diperkirakan lebih dari Rp 5 triliun). Berikut beberapa pihak yang menyetujui dan turut terlibat dalam pengucuran dana talangan ini:
  •         Bank Indonesia

"Meski tetap terjadi perbedaan pendapat soal Century bersifat sistemik atau tidak, namun beberapa hal yang mengemuka dalam diskusi itu," kata Tony Prasetiantono, dalam rilisnya ke Persda. Menurut dia bail out Bank Century sudah benar sebab kalau tidak negara akan rugi Rp 30 triliun. "Jika penutupan dilakukan, kerugian bisa mencapai Rp 30 triliun, karena efek menular. Saya menggarisbawahi bahwa tidak mungkin krisis Century dapat dilalui tanpa kerugian. Kerugian pasti terjadi. Jadi, jangan harap nanti jika Bank Century dijual akan menghasilkan recovery rate 100 persen atau bahkan untung. Ini adalah wishful thinking yang tidak realistis," katanya.
(Kompas.com — “Century Tidak Disuntik, Negara Bakal Rugi Rp 30 T”)
  • Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

BPK sebagai badan yang bekerja secara independen tidak mau terjebak pada hipotesis-hipotesis pihak-pihak tertentu yang mencurigai talangan dana ini. Menurut anggota BPK, Hasan Bisri, banyak yang berpendapat keliru mengenai dana talangan tersebut. Ia menjelaskan, “Seolah-olah, dana tersebut seperti air dalam gentong yang dituangkan keluar. Banyak nasabah yang menyimpan dananya dalam deposito atau tabungan, akan tetapi tidak bisa diambil karena banknya krisis. Dana nasabah itu baru bisa diambil setelah pemerintah dan Bank Indonesia mengucurkan dana talangan”.
(Kompas.com — “Banyak yang Tidak Paham Dana Talangan”)
  •  Sri Mulyani maupun DPR

Ketika Bank Indonesia (Boediono) mengatakan penutupan Bank Century akan menyebabkan dampak sistemik, Menkeu Sri Mulyani maupun DPR setuju untuk menyelamatkan dan menyehatkan kembali Century. Waktu itu, tujuan penyehatannya adalah agar bank tersebut tidak berpengaruh secara sistemik terhadap perekonomian apabila bank tersebut dinilai gagal dan dilikuidasi BI dan pemerintah. Masyarakat Indonesia berharap, semoga sebagai pejabat publik, Sri Mulyani menyadari risiko dan konsekuensi yang harus dipikulnya akibat keputusannya menyehatkan Bank Century.
(Kompas.com — “Boediono, Sri Mulyani, dan Lothario Karya Multatuli”)

Dari komentar pihak-pihak yang Pro dalam pengucuran dana talangan, saya banyak menemukan alasan “ jika Bail out tidak dilakukan dan Bank Century ditutup, ini akan menyebabkan dampak sistemik”. Menurut Undang-undang (BI dan LPS), pengertian dampak sistemik adalah kegagalan suatu bank yang akan berpengaruh secara berantai terhadap perbankan nasional secara khusus dan sistem keuangan bangsa secara umum, yang pada gilirannya berpotensi memicu krisis ekonomi.

Pengamat ekonomi dan perbankan, Aviliani, menyatakan bahwa penutupan bank Century memiliki potensi dampak sistemik dalam hal pengaruhnya terhadap bank-bank lain di Indonesia. “Memang dari sisi aset, Century sangat kecil. Tidak akan berpengaruh pada bank lain. Tapi, bila kepercayaan deposan hilang akibat penutupan Century, penarikan uang besar-besaran di bank lain sangat mungkin terjadi.”

KONTRA: Kebijakan bail out kurang tepat, bahkan banyak yang mencurigai kemungkinan terdapatnya unsur-unsur pelanggaran maupun tindak pidana di dalamnya yang bersifat koruptif. Lagipula Bank Century hanyalah bank kecil yang tidak menyimpan dana perbankan nasional yang besar didalamnya. Lebih baik ditutup saja.

Banyak pertanyaan-pertanyaan bergulir mengenai mengapa pemerintah melalui LPS hanya menyelamatkan Century. Sedangkan bank-bank lain yang memiliki kriteria hampir sama (misal Bank Indover, Bank IFI) dibiarkan kolaps dan ditutup.

Dugaan konspirasi juga mudah bergulir. Diduga, Bank Century sengaja diselamatkan agar dana penyelamatan bisa sebagian dialokasikan untuk dana politik. Sebab secara kebetulan, Bank Century diselamatkan pada 21 November 2008 saat para politisi sedang menghimpun segala daya untuk persiapan pemilu legislatif April 2009 dan pemilu presiden Juli 2009.

Selain itu, pihak kontra semakin ‘gerah’ dengan pengucuran talangan yang berasal dari  dana APBN. Kembali pertanyaan lainnya muncul, apa alasannya Century mendapatkan dana sebesar itu. "Harusnya tidak dari APBN, tapi dari LPS selaku pemegang saham Bank Mutiara (nama Bank Century kini). Kalau LPS kekurangan dana, baru APBN menambah modal untuk LPS. Jika langsung dari APBN, ini nanti jadi preseden bagi bailout terhadap bank atau produk keuangan lainnya," kata Dradjad Wibowo selaku Wakil Ketua Umum PAN.

Penyelamatan Century: Untung atau Rugi?

Mengenai kebijakan untuk mem-bail out ini, saya sendiri belum pernah mendengar atau membaca adanya penyampaian analisis “benefit-cost” atau untung-ruginya dari pemerintah.
Pemerintah mengharapkan masyarakat untuk berpikir lebih rasional, dan saya rasa hal itu dapat terealisasi jika saat keputusan bail out diambil, pemerintah menjelaskan dampak apa yang akan terjadi jika di-bail out dan tidak di-bail out.
Tapi setidaknya ada 3 skema mengenai perhitungan sederhana yang bisa menjelaskan untungnya jika Bank Century diselamatkan:
skema untung-rugi penyelamatan century

Analisis: 
Dari ketiga skema itu, penyelamatan Century seharga Rp 6,7 triliun masih lebih murah daripada dua skema lainnya. Masalahnya, masih banyak orang berpikir lain, sesuai imajinasi dan keyakinan masing- masing. Biaya LPS Rp 6,7 triliun, yang mestinya dibandingkan dengan dua skema lain itu, atau dibandingkan dengan aset total sektor perbankan kita Rp 2.400 triliun dan kini dalam keadaan stabil, atau dana masyarakat di bank Rp 1.800 triliun, tetap saja dituding mahal. Jika angka ini dibandingkan dengan berapa nasi bungkus yang bisa dibeli untuk penduduk miskin, menjadi amat fantastis dan dramatis.
Sebenarnya perbandingan tersebut tidak ada metodologinya, tidak ilmiah, dan tidak sistematis. Seharusnya, pembandingnya adalah aset dan dana masyarakat di sektor perbankan yang berhasil diamankan stabilitasnya. Dengan Rp 6,7 triliun, dana masyarakat di seluruh bank di Indonesia sebesar Rp 1.800 triliun dicegah dari kepanikan dan kebangkrutan.

Nah, sungguh disayangkan lemahnya pengawasan bank menyebabkan adanya bank yang menyimpang dalam pengelolaan dananya yang akhirnya berpotensi merugikan keuangan negara. Semoga gulungan “bola salju” Century ini cepat dapat diselesaikan.

Referensi:

No comments:

Post a Comment