When you run so fast to get somewhere, you miss the fun of getting there.
Life is not a race, so take it slower.
Hear the music before the song is over.
You are part of the puzzle of someone else's life.
You may never know where you fit but others will fill the holes in their lives with pieces of you.
So if you run out of reasons to live, remember that someone else's life may never be complete without you in it.

Friday, July 5, 2013

Cara Mengatasi Pemerkosaan

Tiga puluh tiga tahun yang lalu, Mary diperkosa sambil diancam dengan pisau. Sekarang, jantung Mary berdebar-debar dan telapak tangannya berkeringat bila ia mencoba menggambarkan peristiwa tersebut. ”Itu merupakan sesuatu yang paling nista yang dapat dialami seorang wanita,” katanya, hampir menangis. ”Itu merupakan sesuatu yang buruk dan mengerikan.”

PEMERKOSAAN dapat menjadi salah satu peristiwa emosional yang paling menghancurkan dalam kehidupan seseorang, dan dampaknya dapat melekat seumur hidup. Dalam sebuah penelitian, hampir sepertiga responden dari korban pemerkosaan telah mempertimbangkan untuk bunuh diri, dan mayoritas besar mengatakan bahwa pengalaman tersebut telah mengubah mereka secara permanen.
Dampak peristiwa ini khususnya dapat mendatangkan trauma apabila sang wanita kenal dengan si penyerang. Korban pemerkosaan yang pelakunya adalah orang yang sudah dikenal kemungkinannya lebih kecil untuk mendapat dukungan dari orang-orang lain karena sang korban tutup mulut berkenaan peristiwa itu atau sang korban mengungkapkannya tetapi tak seorang pun percaya bahwa itu adalah pemerkosaan. Karena ia disakiti oleh seseorang yang dipercayainya, ia juga kemungkinan besar menyalahkan dirinya sendiri dan meragukan kesanggupannya untuk menilai orang-orang lain.

Terimalah Bantuan

Banyak korban pemerkosaan pada mulanya bereaksi dengan perasaan terguncang dan penyangkalan. Seorang wanita diperkosa beberapa saat sebelum ujian penting di sekolahnya. Ia mengesampingkan masalah pemerkosaan dalam benaknya hingga ia selesai ujian. Korban lain dari pemerkosaan mengatakan, ”Saya tidak dapat membiarkan diri saya mengingat sedikit pun dari kejadian itu karena pria yang amat saya percayai berubah menjadi penyerang tepat di depan mata kepala saya sendiri. Saya tidak menyangka ada orang yang dapat diperkosa oleh seseorang yang dikenalnya. Kedengarannya mungkin konyol, namun anggapan itu membuat saya putus asa. Saya merasa begitu sendirian.”
Beberapa wanita terus menyangkal apa yang terjadi dengan tutup mulut mengenai pemerkosaan yang menimpa mereka. Mereka menutup-nutupi penyerangan itu selama bertahun-tahun, yang memperlambat proses penyembuhan dan menimbulkan masalah-masalah emosional lain yang mungkin tidak disadari oleh sang korban sebagai akibat pemerkosaan itu.
Pemulihan biasanya tidak akan mulai sebelum Anda membicarakannya dengan orang-orang lain. Seorang teman yang dapat dipercaya dapat membantu Anda untuk mengerti bahwa apa yang terjadi atas diri Anda adalah benar-benar pemerkosaan dan bukan kesalahan Anda. Sebuah amsal tua menyatakan, ”Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Bagi beberapa korban, menghubungi pusat krisis-pemerkosaan atau seorang penasihat profesional mungkin dibutuhkan untuk membantu menjelaskan perasaan mereka.
Para korban sering merasa takut untuk berbicara mengenai pemerkosaan atas diri mereka karena perasaan bersalah, khususnya jika mereka terangsang secara seksual pada waktu diserang. Mereka mungkin merasa kotor dan tidak berguna serta menyalahkan diri sendiri atas pemerkosaan itu—meskipun tidak seorang pun selain si pemerkosa yang patut dipersalahkan.
”Punya teman baik untuk diajak bicara amat membantu,” kata Mary, yang mempercayakan rahasianya kepada seorang rekan kristiani. ”Saya dapat berbicara kepadanya dan tidak merasa diri kotor serta tanpa merasakan adanya suatu aib karena telah diperkosa.”

Berilah Dia Dukungan

Di lain pihak, tidak patut dan tidak pengasih apabila teman-teman sang korban mengungkit-ungkit atau main hakim sendiri untuk memutuskan apakah ia ”benar-benar telah diperkosa”. Jangan sekali-sekali menganggap bahwa ia menikmati pemerkosaan itu atau ia telah berlaku amoral. Hal terpenting yang dapat dilakukan seorang teman bila dimintai tolong adalah untuk mempercayai dia. Kembalikan kepercayaan dirinya. Siaplah untuk mendengarkan dia bila ia ingin berbicara, namun jangan memaksanya bercerita secara rinci.
Jika pemerkosaan terjadi belum lama berselang, teman-teman dapat membantu sang korban mendapatkan pertolongan medis dan dapat menawarkan tempat yang aman untuk bernaung. Anjurkan dia untuk melaporkan pemerkosaan itu, namun biarkan ia membuat keputusannya sendiri. Ia baru saja mengalami situasi yang membuatnya kehilangan semua kendali. Biarkan dia mengambil kembali sebagian kendali itu dengan tidak menghalanginya untuk memutuskan apa yang selanjutnya hendak dilakukannya.
Keluarga dari para korban pemerkosaan harus melawan desakan untuk bereaksi secara emosional terhadap situasi itu. Mereka mungkin ingin mencari kambing hitam dari pemerkosaan tersebut atau membalas dendam terhadap si pemerkosa, namun keduanya tidak membantu sang korban. Menyalahkan orang lain selain si pemerkosa atas apa yang telah terjadi adalah sia-sia, dan membalas dendam berbahaya. Ini akan menyebabkan sang korban pemerkosaan khawatir akan keselamatan orang-orang yang dikasihinya dan bukannya memusatkan perhatian terhadap pemulihannya.
Keluarga-keluarga hendaknya juga menyadari bahwa banyak korban pemerkosaan memiliki pandangan yang berbeda tentang hubungan seksual setelah mengalami pemerkosaan. Dalam pikiran mereka, hubungan seksual telah menjadi semacam senjata, dan mereka mungkin selama beberapa waktu mengalami kesulitan dalam melakukan hubungan seksual, meskipun dengan orang yang mereka kasihi dan percayai. Karena alasan tersebut, seorang suami hendaknya tidak memaksakan istrinya untuk melakukan kegiatan seksual sampai ia siap untuk itu. Keluarga-keluarga dapat membantu dengan membangun harga diri seorang wanita muda dan memperlihatkan kepadanya bahwa ia tetap dikasihi dan direspek tidak soal apa pun yang telah terjadi atas dirinya. Dukungan yang terus-menerus akan dibutuhkan seraya sang korban pemerkosaan melewati tahap-tahap yang kadang-kadang lama menuju penyembuhan emosi.

Mengatasi Rasa Takut dan Depresi

Wanita-wanita yang pernah diperkosa berkata bahwa reaksi mereka yang paling hebat adalah rasa takut. Kebanyakan korban pemerkosaan tidak berharap dapat tetap hidup setelah penyerangan tersebut. Lalu, mereka mungkin takut diperkosa lagi atau mungkin takut berjumpa dengan si pemerkosa secara kebetulan.
Ketakutan yang dirasakan sewaktu diperkosa dapat bangkit kembali oleh suara, bau-bauan, dan tempat-tempat yang serupa. Jika seorang wanita diperkosa di sebuah lorong, ia mungkin merasa takut melewati sebuah lorong. Jika ia diperkosa di rumah, ia mungkin tidak pernah lagi merasa aman di sana dan mungkin terpaksa pindah. Bahkan menghirup aroma minyak wangi yang serupa dengan yang dipakai si pemerkosa dapat menimbulkan kenangan pahit.
Meskipun sedikit pemerkosaan mengakibatkan kehamilan, banyak korban merasa sangat takut akan kemungkinan tersebut. Banyak yang juga khawatir berkenaan apakah mereka terjangkit penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual. Kira-kira setengah dari korban pemerkosaan mengalami perasaan depresi, putus harapan, dan tidak berharga, yang dapat bertahan selama beberapa minggu hingga beberapa bulan. Mereka juga mungkin berjuang melawan kekhawatiran, fobia, dan serangan-serangan kepanikan.
Meskipun wanita-wanita mungkin tidak dapat mencegah suatu pemerkosaan, pada waktunya mereka dapat mengendalikan pikiran, perasaan, dan reaksi mereka atas penyerangan itu. Mereka dapat belajar untuk menggantikan pikiran negatif dengan pandangan positif tentang diri mereka sendiri.
”Sebaliknya daripada memberi tahu diri sendiri bahwa Anda sangat lemah, tak berguna, atau tak berdaya, belajarlah untuk memberi tahu diri sendiri bahwa keadaan Anda telah amat membaik dan Anda telah jauh melampaui kekalutan setelah penyerangan itu,” kata Linda Ledray dalam buku Recovering From Rape. ”Setiap hari, seraya pikiran dan perasaan negatif Anda semakin berkurang kekuatannya, katakan kepada diri sendiri, ’Saya sedang belajar memulihkan kembali kendali saya.’”
Rasa takut juga dapat diatasi dengan belajar mengenali secara tepat penyebabnya. Bila sang korban mengenali apa yang menimbulkan rasa takut, ia dapat bertanya kepada diri sendiri, Seberapa realistiskah rasa takut itu? Misalnya, jika ia melihat seseorang yang mirip dengan si pemerkosa, ia dapat mengingatkan dirinya sendiri bahwa orang tersebut bukan sang pemerkosa dan bahwa orang itu tidak akan menyakitinya.
Metode lain yang disarankan untuk mengatasi rasa takut adalah mengurangi perasaan sensitif secara sistematis. Sang wanita membuat daftar kegiatan atau situasi yang ditakutinya, mencatatnya secara berurut dari yang kurang ditakuti hingga yang paling ditakuti. Lalu, ia membayangkan dirinya dalam situasi yang paling tidak menakutkan hingga situasi tersebut tidak lagi menakutkannya. Setelah itu, ia beralih ke pokok berikutnya dalam daftar tadi hingga akhirnya ia dapat merasa aman memikirkan semua situasi.
Dengan bantuan seorang teman, ia kemudian dapat membuat kemajuan dengan melakukan kegiatan-kegiatan tersebut dalam kehidupan sehari-harinya, seperti pergi ke luar rumah pada malam hari atau berada sendirian. Ia lambat laun akan dapat mengendalikan rasa takutnya sehingga itu tidak lagi mempengaruhi kegiatan rutinnya sehari-hari. Akan tetapi, takut melakukan beberapa kegiatan—seperti melewati lorong yang gelap pada malam hari—adalah normal, dan tidak ada gunanya untuk mencoba mengatasi keresahan dalam situasi-situasi tersebut.

Mengalihkan Kemarahan

Korban-korban pemerkosaan juga mengalami perasaan marah, yang pada mulanya ditujukan kepada semua laki-laki namun, seraya waktu berlalu, kemarahan biasanya terpusat kepada si pemerkosa. Orang-orang yang marah sering kali melampiaskan kemarahannya tanpa pandang bulu. Orang-orang lain mungkin bereaksi dengan mengubur perasaan mereka. Akan tetapi, kemarahan dapat diarahkan secara konstruktif, dan cara seseorang mengatasi perasaan marahnya dapat membantu penyembuhannya.
Mula-mula, para korban pemerkosaan tidak perlu takut menyatakan kemarahan. Mereka dapat mengutarakan hal ini kepada orang-orang lain. Menjadi terlibat dalam proses hukum atau menulis sebuah catatan juga dapat menjadi suatu penyaluran. Mereka juga dapat menyalurkan kemarahan mereka dengan kegiatan-kegiatan fisik seperti, tenis, tenis dinding, bola tangan, berjalan kaki, joging, bersepeda, atau berenang, yang memberikan manfaat tambahan dalam membantu memerangi depresi.
Anda dapat mengendalikan kembali kehidupan Anda.

Apa yang Akan Menghentikan Pemerkosaan?

Meniadakan pemerkosaan lebih daripada sekadar wanita menyembunyikan diri dari pemerkosa atau melawan mereka habis-habisan. ”Kaum prialah yang memperkosa dan kaum prialah yang secara kolektif memiliki kuasa untuk mengakhiri pemerkosaan,” kata pengarang bernama Timothy Beneke dalam bukunya Men on Rape.
Pemerkosaan tidak akan berakhir sampai kaum pria berhenti memperlakukan kaum wanita sebagai objek belaka dan belajar bahwa hubungan yang sukses tidak bergantung pada dominasi yang kejam. Pada tingkat individu, pria-pria yang matang dapat angkat suara dan mempengaruhi pria-pria lain. Baik pria maupun wanita dapat menolak untuk menanggapi lelucon-lelucon yang berbau seks, menonton film-film yang menampilkan serangan seksual, atau mendukung para pemasang iklan yang mengeksploitasi seks untuk menjual barang.
Orang-tua dapat mengajarkan respek terhadap kaum wanita melalui teladan. Mereka dapat mengajar anak-anak lelaki mereka untuk memandang kaum wanita dengan hormat. Orang-tua dapat mengajar anak-anak lelaki mereka untuk menjadi sahabat bagi kaum wanita dan tidak merasa canggung berada di sekitar mereka. Mereka dapat mengajar anak-anak lelaki mereka bahwa hubungan seksual merupakan suatu pernyataan kasih yang penuh kelembutan yang hanya diperuntukkan bagi pasangan hidup. Orang-tua dapat dengan jelas menyatakan bahwa kekerasan tidak dapat ditoleransi, dan dominasi atas orang-orang lain tidak dapat dihargai. Mereka dapat menganjurkan anak-anak mereka untuk membahas masalah-masalah seksual secara terbuka dengan mereka dan untuk dengan berani menghadapi tekanan seksual.
Akan tetapi, pemerkosaan tidak akan berakhir tanpa perubahan-perubahan revolusioner dalam masyarakat dunia. ”Pemerkosaan bukan hanya masalah perorangan [tetapi] juga masalah keluarga, masalah sosial, dan masalah nasional,” kata peneliti Linda Ledray.

JIKA ANDA DIPERKOSA

□ Dapatkan pemeriksaan medis.
□ Jika Anda kehendaki, minta agar penasihat bagi korban pemerkosaan menemani Anda menjalani prosedur medis dan hukum jika penasihat semacam itu tersedia.
□ Hubungi polisi sesegera mungkin. Para penasihat menyarankan agar melapor demi keselamatan Anda sendiri dan keselamatan wanita-wanita lain. Melapor tidak sama dengan menuntut, namun jika Anda di kemudian hari memilih untuk menuntut, kasus Anda akan dilemahkan karena laporan yang terlambat.
□ Pertahankan bukti-bukti. Jangan langsung mandi, berganti pakaian, keramas atau menyisir rambut, atau menghilangkan sidik jari tangan atau jejak kaki.
□ Personel medis akan mengumpulkan bukti-bukti dan akan melakukan tes untuk penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual dan tes kehamilan. Jika mereka menawarkan pil pencegah kehamilan, atau yang dikenal sebagai pil pagi hari, umat kristiani hendaknya waspada bahwa obat-obat semacam itu dapat mengakibatkan tubuh menggugurkan telur yang sudah dibuahi.
□ Lakukan apa yang harus Anda lakukan untuk merasa aman—mengganti gembok, tinggal bersama teman, memasang palang pada pintu Anda—tidak soal apakah Anda tampak berlebihan atau tidak.
□ Yang terutama, bacalah Kitab suci untuk mendapatkan penghiburan, berdoa, bahkan panggil nama-Nya keras-keras, selama dan setelah penyerangan. Andalkan teman-teman dekat untuk mendapatkan dukungan. Dan carilah pergaulan dengan teman-teman yang sehat.


Sumber:
Sedarlah! 8/3 1993



No comments:

Post a Comment