When you run so fast to get somewhere, you miss the fun of getting there.
Life is not a race, so take it slower.
Hear the music before the song is over.
You are part of the puzzle of someone else's life.
You may never know where you fit but others will fill the holes in their lives with pieces of you.
So if you run out of reasons to live, remember that someone else's life may never be complete without you in it.

Monday, July 8, 2013

Pengutilan—Siapa yang Dirugikan?

DI Jepang, seorang pemilik toko menangkap basah seorang anak laki-laki yang mencuri lalu ia memanggil polisi. Ketika polisi tiba, anak itu kabur. Polisi mengejarnya. Sewaktu anak itu menyeberangi lintasan kereta api, ia dihantam kereta dan tewas.
Ketika kasus itu mendapat sorotan masyarakat, ada yang mengecam si pemilik toko karena memanggil polisi. Ia menutup usahanya sampai kemarahan itu mereda. Setelah ia membuka kembali tokonya, banyak pengutil yang datang lagi. Akan tetapi, trauma atas kejadian sebelumnya membuat ia takut menghadapi para pencuri itu. Tokonya menjadi terkenal sebagai sasaran empuk. Tidak lama kemudian, ia harus menutup tokonya selama-lamanya.
Memang, kasus ini lebih tragis daripada kebanyakan kasus, tetapi kasus ini menggambarkan suatu kebenaran penting. Pengutilan sangat merugikan—dalam banyak cara dan bagi banyak orang. Mari kita cermati besarnya kerugian karena kejahatan ini.
Kerugiannya atas Toko
Pengutilan merugikan pedagang di seluruh dunia sampai miliaran dolar AS setiap tahun. Ada yang memperkirakan bahwa kerugian di Amerika Serikat saja mencapai lebih dari 40 miliar dolar. Berapa banyak usaha yang dapat bertahan kalau harus menanggung kerugian sebesar itu? Banyak toko yang kewalahan. Apabila para pencuri menyerbu lorong-lorong sebuah toko, sumber nafkah seumur hidup dapat terancam.
”Di samping persaingan, pengutilan adalah hal lain yang patut dikhawatirkan. Saya tidak tahu berapa lama lagi usaha kami dapat bertahan,” kata Luke, pemilik toko di New York City. Ia tidak mampu memasang sistem keamanan elektronik. Mengenai para pencuri, ia mengatakan, ”Siapa pun dapat melakukannya, bahkan pelanggan baik saya.”
Ada yang berpendapat bahwa problem Luke itu tidak serius. ”Toko-toko ini menghasilkan banyak uang,” kata mereka, ”jadi, apa yang saya curi tidak ada artinya.” Tetapi, apakah laba toko eceran memang begitu besar?
Toko di beberapa tempat menambahkan 30, 40, atau 50 persen dari harga barang yang mereka beli, tetapi persentase itu bukanlah laba bersih. Pedagang menggunakan pendapatan tambahan itu untuk membayar biaya operasional, seperti ongkos sewa, pajak, gaji dan tunjangan pegawai, pemeliharaan bangunan, perbaikan peralatan, asuransi, listrik, air, bahan bakar pemanas, telepon, dan sistem keamanan. Setelah dipotong pengeluaran ini, labanya mungkin 2 atau 3 persen. Jadi, apabila seseorang mencuri dari sebuah toko, hilanglah sebagian nafkah pedagang itu.
Bagaimana dengan Pencurian Kecil-kecilan?
Sewaktu berada di sebuah toko bersama ibunya, seorang bocah laki-laki menyelinap ke bagian gula-gula. Di sana, ia membuka sebuah kotak, mengambil sepotong permen, dan menyelipkannya ke dalam sakunya. Apakah pengutilan kecil-kecilan seperti ini mempengaruhi toko itu?
Dalam brosurnya Curtailing Crime—Inside and Out, Administrasi Usaha Kecil AS mengatakan hal ini, ”Pencurian kecil-kecilan mungkin tidak tampak seperti suatu kejahatan besar bagi pencuri iseng yang mengantongi bolpoin di sini dan kalkulator di sana. Tetapi, bagi usaha kecil yang kembang kempis, pencurian membunuh usaha tersebut.” Karena kecilnya selisih harga pokok dan harga jual, guna menutupi kerugian tahunan sebesar 1.000 dolar akibat pengutilan, pedagang eceran harus menjual 900 permen atau 380 sup kaleng tambahan setiap hari. Jadi, ancaman bagi sebuah usaha sangatlah besar jika banyak bocah mencuri permen. Itulah permasalahannya.
Puluhan juta orang, tua dan muda, miskin dan kaya, dari segala ras dan latar belakang, mencuri dari pasar dan toko. Apa akibatnya? Lembaga Pencegahan Kejahatan Nasional di AS melaporkan bahwa hampir sepertiga dari semua usaha di Amerika Serikat terpaksa gulung tikar gara-gara pencurian. Tidak ada keraguan bahwa usaha di negeri lain pun terancam hal yang sama.
Kerugiannya atas Pelanggan
Harga-harga akan membubung apabila orang mencuri dari toko. Oleh sebab itu, di beberapa daerah, para pelanggan membayar sekitar 300 dolar AS setahun dalam bentuk harga yang lebih mahal akibat pengutilan. Hal ini berarti jika Anda berpenghasilan 60 dolar per hari, Anda harus menyisihkan upah seminggu setiap tahun untuk menanggung apa yang orang lain curi. Apakah Anda mampu mengupayakan itu? Bagi orang yang mengandalkan pensiun atau ibu tunggal yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya, kehilangan pemasukan selama seminggu dengan cara ini dapat mendatangkan pukulan. Kerugiannya belum berhenti sampai di sini.
Seluruh lingkungan perumahan dapat dirugikan apabila toko di sudut jalan harus tutup. Dilaporkan bahwa akibat pengutilan, toko obat di sebuah komunitas yang rapat penduduknya di Amerika terpaksa gulung tikar. Untuk memperoleh obat, banyak penduduk lansia dan lemah sekarang harus pergi sejauh dua setengah kilometer ke apotek lainnya. ”Bayangkan saja kalau harus pakai kursi roda,” kata seorang pejabat.
Kerugian Besar atas Orang Tua
Bruce adalah pria berstandar moral tinggi yang mengajar anak-anaknya untuk bersikap jujur. Suatu hari, putrinya tertangkap karena mencuri. ”Perasaan saya hancur,” katanya. ”Bayangkan bagaimana rasanya mendapat berita lewat telepon bahwa putri Anda ditangkap karena mengutil. Kami bertahun-tahun mengasuh putri kami agar menjadi orang baik, dan sekarang inilah yang terjadi. Kami tidak pernah menyangka bahwa ia akan memberontak dengan cara ini.”
Bruce sangat khawatir dengan putrinya dan masa depannya. Selanjutnya, ia mengundurkan diri dari posisinya sebagai pengajar agama sukarela. ”Bagaimana saya dapat berbicara dari mimbar kepada jemaat? Bagaimana mungkin saya, dengan hati nurani yang bersih, mengajar mereka mengenai membesarkan anak? Saya merasa tidak enak hati.” Sang putri tampaknya tidak memikirkan pengaruh kejahatannya itu terhadap ayahnya.
Kerugiannya atas Pengutil

Di masa lalu, apabila pengelola toko menangkap basah pengutil, ia biasanya memberikan peringatan keras dan membiarkan si pencuri pergi. Dewasa ini, pemilik toko kerap kali menangkap pencuri bahkan yang baru pertama kali mengutil. Dengan demikian, para pencuri sadar bahwa kejahatan mereka ada konsekuensi seriusnya. Seorang gadis bernama Natalie merasakan hal ini.
”Semakin sering saya mencuri, saya semakin percaya diri,” kata Natalie. ”Saya bernalar bahkan jika saya tertangkap, ongkos pengacara dan biaya pengadilan toh masih lebih murah daripada saya harus membayar semua baju keren itu.” Natalie keliru.
Ia tertangkap basah ketika mencuri sepotong gaun, dan polisi membawanya dengan tangan terborgol. Di kantor polisi, sidik jarinya diambil dan ia dikurung dalam sebuah sel bersama penjahat lainnya. Ia harus berada di sana berjam-jam sementara menunggu orang tuanya membebaskannya dengan uang jaminan.
Natalie mengatakan hal ini kepada siapa pun yang berpikir untuk mencuri, ”Terima saran saya, dan beli sajalah gaun atau celana jin itu.” Jika Anda lebih suka mencuri, ia mengatakan, ”Anda akan menyesalinya untuk waktu yang sangat lama.”
Riwayat kejahatan juga menimbulkan penyesalan. Yang membuat para pengutil gundah, meski mereka sudah dihukum, pelanggaran mereka ternyata tidak terlupakan begitu saja tetapi muncul dan menghantui mereka, seperti noda pada gaun atau kemeja. Seorang pengutil mungkin harus mencantumkan riwayat kejahatannya dalam sebuah surat keterangan sewaktu mendaftar ke sebuah universitas. Ia mungkin mendapat kesulitan memasuki suatu profesi, seperti dokter, dokter gigi, atau arsitek. Perusahaan mungkin berpikir dua kali untuk memberinya pekerjaan. Dan, problem ini dapat timbul sekalipun ia telah menjalani sanksi yang ditetapkan oleh pengadilan dan tidak pernah mencuri lagi.
Pengutilan bisa besar dampaknya sekalipun si pelanggar tidak dihukum. Hector, yang disebutkan di artikel awal, merasakan hal ini. ”Saya selalu lolos,” katanya. ”Saya tidak pernah tertangkap sewaktu mencuri.” Tetapi, ia harus menanggung kerugiannya. Ia mengatakan, ”Saya kira kaum muda seharusnya memahami satu hal: Kalian menuai apa yang kalian tabur. Sekalipun polisi tidak pernah menangkap kalian, kalian akan rugi.”
Pengutilan bukanlah kejahatan tanpa korban, dan benda-benda yang dicuri para pengutil bukannya tak bernilai. Siapa pun yang terlibat dalam pengutilan hendaknya meninggalkan praktek itu sama sekali. Tetapi, bagaimana seorang pengutil dapat memperoleh kekuatan untuk sama sekali berhenti mencuri? Apakah kejahatan ini dapat diberantas?



Artikel terkait:

Mengutil—Kesenangan Tak Berbahaya atau Kejahatan Serius?

Mengapa Orang Mengutil?

Berakhirnya Pengutilan

 

Sumber:
Sedarlah! 22/6 05 hlm. 3-10


No comments:

Post a Comment