When you run so fast to get somewhere, you miss the fun of getting there.
Life is not a race, so take it slower.
Hear the music before the song is over.
You are part of the puzzle of someone else's life.
You may never know where you fit but others will fill the holes in their lives with pieces of you.
So if you run out of reasons to live, remember that someone else's life may never be complete without you in it.

Thursday, July 4, 2013

Fotografi—Kenangan dengan Menyentuh Sebuah Tombol

Anda bergegas ke tempat cuci foto setempat untuk mengambil gambar-gambar indah yang Anda abadikan sewaktu liburan terakhir. Tetapi betapa mengecewakan hasilnya! Beberapa gambar tampak gelap, yang lainnya terlalu terang atau tidak tajam. ’Pasti, kameranya!’ kata Anda dengan frustrasi. Tetapi, apakah yang salah kameranya? Ataukah fotografernya?
PESTA pernikahan Anda, tempat-tempat menakjubkan yang Anda kunjungi, teman-teman yang telah pindah, kakek-nenek dan sanak keluarga, anak Anda yang baru dapat berjalan—semua kenangan ini dapat direkam dalam film lewat satu sentuhan pada sebuah tombol. Akan tetapi, betapa kecewanya ketika ternyata foto-foto Anda tidak bagus—atau sama sekali tidak jadi! Bukan, sebuah kamera baru mungkin bukan jalan keluarnya. Kunci keberhasilannya adalah menguasai prinsip-prinsip dasar fotografi.

Bagaimana Prinsip Kerja Kamera?

Secara sederhana, kamera adalah sebuah kotak rapat-cahaya dengan sebuah ”mata”, yaitu lensa, melalui mana cahaya masuk dan difokuskan untuk membentuk bayangan pada film. Permukaan film terdiri dari zat kimia peka cahaya yang harus mendapat kadar cahaya yang memadai untuk berfungsi sebagaimana mestinya. Jika terlalu banyak cahaya, hasil foto Anda kelihatan seperti terhapus. Jika terlalu sedikit, maka hasil foto Anda akan terlalu gelap.
Ketika Anda mengambil gambar, pembuka (shutter) pada kamera terbuka selama sepersekian detik, untuk merekam bayangan di atas film Anda. Maka satu cara untuk mengendalikan cahaya pada film adalah dengan menentukan berapa lama pembuka pada kamera tersebut membuka. Normalnya pada siang hari rata-rata foto dapat diambil dengan kecepatan pembuka 1/125 detik. Banyak kamera mempunyai pembuka yang dapat diatur kecepatannya, namun secara umum Anda hendaknya menggunakan kecepatan pembuka yang sebanding dengan level cahaya. Semakin lama pembuka terbuka, gambar Anda akan semakin kabur akibat pergerakan kamera. Pada situasi kritis, hal ini dapat dicegah dengan memasang kaki tiga (tripod) pada kamera dan melepaskan pembuka dengan sebuah kabel atau dengan menggunakan timer yang ada pada kamera.
Cara lain untuk mengendalikan cahaya pada film adalah menyesuaikan ukuran celah bulat (lens aperture) yang disebut juga f-stop. Hal ini dapat diumpamakan dengan mata Anda yang terbuka lebar, memicing, atau menyipit. Celah bulat mengendalikan jumlah cahaya yang masuk. Beberapa lensa mempunyai penunjuk pilihan, atau beberapa f-stop, yang dapat Anda pilih. Semakin besar celah lensa, semakin banyak cahaya yang masuk dan semakin besar pengaruh cahaya pada film. Hal yang membingungkan para pemula adalah angka f-stop yang merupakan kebalikan dari ukuran celah bulat. Sebagai contoh, f-2.8 berarti terbuka lebar, f-32 berarti terbuka sedikit sekali. Banyak kamera sekarang dibuat dengan suatu keistimewaan berupa pengaturan cahaya otomatis dan pengukur cahaya yang menyatu dengan badan kamera. Keduanya menunjukkan dengan tepat kepada Anda caranya membuat penyesuaian. Namun, untuk beberapa kamera otomatis penuh, semua penyesuaian dikerjakan secara otomatis untuk Anda. Kamera tersebut bahkan memfokus untuk Anda!

Pilih Film yang Mana?

Seperti kamera, tersedia film-film yang terus berkembang jenisnya. Negatif film berwarna digunakan untuk membuat foto berwarna. Negatif film tersebut mudah dibawa dan relatif murah untuk diperbanyak atau diperbesar. Kelebihan lain adalah batas waktunya, atau tingkat pencahayaannya yang besar, sehingga bahkan negatif film yang sedikit menerima cahaya dapat menghasilkan hasil cetak yang memadai. Film berwarna bolak-balik digunakan untuk memproduksi transparan berwarna, atau slides. Namun, untuk menyaksikannya, Anda harus membeli proyektor dan layar. Slides kurang bisa toleran terhadap kekeliruan dan membutuhkan lebih banyak ketepatan dalam pengendalian cahaya. Akan tetapi, Anda bisa mendapatkan hasil cetak yang baik dari slides.
Film dibedakan menurut kecepatannya (kepekaannya terhadap cahaya) yang dinyatakan dengan angka-angka ISO atau ASA. Beberapa memiliki tingkat kepekaan yang rendah seperti ISO 25 dan yang lainnya tinggi seperti ISO 3200. Film untuk segala kebutuhan adalah ISO 100 Daylight, film berkecepatan sedang untuk pemotretan normal di siang hari. Film ISO 400 bekerja baik di situasi redup, seperti senja hari, hari berawan, dan di dalam ruangan. Akan tetapi, sebagai aturan umum, semakin lambat kecepatan suatu film, semakin tajam kemampuannya menghasilkan detail. Film yang cepat cenderung memperlihatkan guratan-guratan pada waktu diperbesar.
Jika kamera Anda memiliki pilihan kecepatan film, amatlah penting untuk menyetelnya ke nomor ISO atau ASA yang tepat. Sekarang sampailah kita pada masalah yang sangat penting:

Bagaimana Cara Memotret yang Baik

Banyak pemula asal jepret saja. Mereka membidik dan menekan tombol. Seorang fotografer mahir menggunakan sedikit waktu untuk berpikir dan merancang sebuah foto. Ia menatanya. Menempatkan subyek foto Anda atau hal yang menarik dengan sepatutnya disebut komposisi. Tidak, menempatkan subyek foto Anda tepat di tengah tidak selalu yang terbaik. Perhatikan bagaimana, dalam contoh yang diberikan di sini, suatu subyek akan lebih menarik jika digeser sedikit dari tengah-tengah—katakanlah kira-kira sepertiga jarak dari bagian atas atau pinggir sebuah foto. Hal ini disebut menerapkan aturan sepertiga.
Juga penting untuk memisahkan subyek dari latar belakang. Latar belakang yang kacau, atau ramai dapat mengalihkan perhatian terhadap subyek foto. Adakah dinding berwarna terang atau latar belakang netral yang dapat digunakan untuk memotret orang? Jika latar belakang yang cocok tidak ditemukan, aturlah celah bulat membuka lebar (perkecil nomor f-stop). Hal ini menjadikan subyek Anda terfokus, namun membuat latar belakangnya menjadi kabur.
Untuk memastikan pencahayaan yang baik, Anda juga dapat mengambil dua foto tambahan dengan kecepatan pembuka atau celah bulat diatur lebih tinggi untuk yang satu dan lebih rendah untuk yang lain. Ini berarti bahwa jika Anda mengambil foto pada kombinasi ukuran f-8 dan 1/125 detik, Anda juga dapat memotret pada f-5,6 dan f-11 pada kecepatan yang sama. Dengan cara begini, Anda menyediakan ruang gerak dalam kondisi pencahayaan. Di sisi lain, jika diinginkan kedalaman maksimum dari suatu obyek, lakukan hal yang sama terhadap ukuran kecepatan pembuka (1/60, 1/125, dan 1/250 detik) dan biarkan ukuran f-stop dalam keadaan konstan.
Pencahayaan juga penting. Jika kebetulan latar belakangnya begitu terang atau ada cahaya yang kuat di belakang subyek (salju, laut di terik matahari, atau pantai), hal ini dapat membingungkan kamera Anda dan menyebabkan pencahayaan yang kurang baik. Mengatasinya? Dekati subyek Anda, dan ukurlah cahaya dengan akurat. Kemudian kembalilah ke posisi Anda, dan memotretlah pada lokasi yang telah Anda pilih. Fotografer yang telah berpengalaman sering menggunakan lampu kilat di siang hari untuk mengatasi bayangan yang dihasilkan dari cahaya latar yang terang atau redup sekali.
Sinar matahari yang terang menyinari subyek secara langsung (atau di belakangnya), dapat menghasilkan bayangan kasar di bawah mata, hidung dan dagu. Jika demikian, tempatkan subyek foto di tempat yang teduh, atau gunakan lampu kilat. Anda bahkan dapat mengatur agar posisi matahari tepat di belakang atau di sisi subyek Anda untuk menghasilkan ’efek halo’ seperti matahari menyinari rambut, asal saja matahari tidak langsung menyinari lensa kamera Anda.
Lampu kilat elektronik memiliki keterbatasan, karena banyak lampu kilat hanya efektif pada jarak maksimum 10 meter. Akan tetapi, mencoba memotret dengan lampu kilat di panggung teater (seperti di kebaktian Kristen) atau gedung pencakar langit tidak lebih dari menghabiskan baterai. Pemecahannya? Cobalah tutup lampu kilat Anda (bukan lensa) dengan kertas tissue atau sapu tangan untuk mengurangi daerah yang terlalu terang atau pantulan cahaya dari langit-langit yang putih. Hal ini juga membutuhkan kompensasi pencahayaan. Anda dapat menempatkan subyek membelakangi latar belakang yang lebih gelap untuk mengurangi bayangan.
Efek mata merah yang muncul pada foto adalah kesalahan lain dari lampu kilatnya, terutama pada kamera yang lampu kilat menyatu dengan badan kamera. Jika Anda tidak dapat memisahkan lampu kilat dari kamera Anda (seperti misalnya menambah selongsong), mintalah subyek melihat sinar yang terang dulu sehingga mata tidak akan membesar ketika Anda memotretnya. Atau mintalah subyek agar jangan melihat langsung ke lensa.

Potret yang Menyingkapkan Sesuatu

Potret yang baik lebih dari sekadar menghasilkan gambar wajah seseorang. Ia dapat menyiratkan kepribadian dan karakter seseorang. Untuk menghasilkan gambar-gambar yang baik, Anda harus menguasai mekanisme fotografi. Dengan cara ini Anda dapat berkonsentrasi pada subyek Anda, dan bukan perlengkapan Anda.
Mula-mula, buatlah subyek Anda bersikap santai. Gunakan lensa tele sehingga Anda dapat mengambil foto close-up tanpa suatu gerakan kamera yang mengganggu dari dekat. Musik yang cocok menimbulkan suasana santai. Mengajak bicara adalah cara lain yang dapat membantu subyek Anda untuk tidak terlalu memperhatikan kamera dan membuat ekspresi yang tidak dibuat-buat. Gunakan pertanyaan untuk membuatnya berbicara dengan bebas dan merangsang emosi yang hendak Anda liput. Untuk memotret anak-anak, buatlah ini seperti permainan atau ceritakan sebuah dongeng. Biarkan mereka spontan dan ceria. Perlengkapan tambahan dapat juga membantu subyek Anda bersikap santai. Maka potretlah seorang musisi dengan alat musiknya atau pekerja dengan perkakasnya.
Memotret suatu kelompok tidak perlu berarti mengatur setiap orang ke dalam barisan yang rapi. Beri mereka perlengkapan tambahan—satu atau dua buah kursi—dan atur mereka di sekitarnya, atau mungkin membentuk komposisi segitiga. Tidaklah perlu agar semua orang tersenyum di depan kamera. Lihatlah dengan saksama sebelum Anda menekan tombol. Apakah semua pakaian dan rambut telah tertata rapi? Apakah ada unsur latar belakang yang mengganggu? Apakah sudut pengambilan gambar oleh kamera kelihatan aneh? (Kamera dibidikkan sedikit lebih rendah dari wajah dapat menghasilkan efek hidung yang pendek atau tidak menampilkan batas rambut.) Sekarang, lanjutkan dan potret beberapa kali dan setelah dicuci pilih yang terbaik.
Dengan sedikit upaya—dan latihan—kamera Anda dapat menghasilkan kenikmatan bagi Anda dan membantu Anda mengabadikan kenangan manis, kenangan yang diliput dengan tekanan mantap pada tombol kamera Anda!



"ISO adalah singkatan dari International Standards Organization; ASA, untuk American Standards Association. Di sebagian negara Eropah, ukuran yang digunakan adalah DIN (Deutsche Industrie Norm). Film bertanda ISO 100/21 sama dengan ASA 100 atau 21 DIN."

Beberapa Cara untuk Menghindari Foto yang Mengecewakan

1. Baca dan ikuti instruksi pada kamera dengan saksama.
2. Periksalah apakah kecepatan film sudah tepat.
3. Periksalah apakah lensa dan lampu kilat tidak tertutup jari Anda atau penutup lensa.
4. Atur dan batasi komposisi Anda dengan mengubah posisi Anda atau menggunakan lensa zoom.
5. Pegang kamera dengan mantap, dan tekan tombol pelepas.


Sumber:
Sedarlah!

 

No comments:

Post a Comment