When you run so fast to get somewhere, you miss the fun of getting there.
Life is not a race, so take it slower.
Hear the music before the song is over.
You are part of the puzzle of someone else's life.
You may never know where you fit but others will fill the holes in their lives with pieces of you.
So if you run out of reasons to live, remember that someone else's life may never be complete without you in it.

Friday, April 3, 2015

PELUANG BISNIS INDONESIA DI SEKTOR WOOD-BASED INDUSTRY DENGAN PENEKANAN PADA PRODUK FURNITUR DAN INTERIOR DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015

PELUANG BISNIS INDONESIA DI SEKTOR WOOD-BASED INDUSTRY DENGAN PENEKANAN PADA PRODUK FURNITUR DAN INTERIOR DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015

Oleh:
PRADIPTYA SURYO PUTRI (25211547 — 4EB01)



Cetak biru Masyarakat Ekonomi ASEAN (AEC Blueprint) sebagai rencana induk pembentukan MEA telah disahkan pada tahun 2007. Target awal realisasi MEA yang seyogyanya disepakati akan terbentuk pada tahun 2020, kemudian dipercepat menjadi tahun 2015. Jika terealisasi, tahun 2015 ini kawasan ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan kesatuan yang berbasis produksi, dimana mobilitas arus barang, jasa, investasi, modal, dan tenaga kerja terampil akan bergerak bebas antar Negara-negara yang tergabung dalam ASEAN. Pertanyaan yang timbul ketika 2015 tiba adalah, siapkah Indonesia sebagai Negara anggota ASEAN dalam menghadapi tantangan-tantangan yang akan muncul dalam proses pembentukan MEA, mengingat integrasi ASEAN akan berimplikasi dengan kehidupan rakyat Indonesia dan lebih dari 600 juta kehidupan rakyat di kawasan Asia Tenggara? Di samping itu, di sektor bisnis industri, potensi apa yang dapat Indonesia maksimalkan sebagai peluang untuk tumbuh dalam MEA 2015 ini? Apakah Indonesia siap mengikuti budaya persaingan usaha dalam masyarakat terpadu ini? Apakah Indonesia sebagai Negara pelaku usaha ASEAN dapat bersaing dan berintegrasi dengan perekonomian global?

Kesiapan Sektor Industri Produk Berbasis Kayu (Wood-Based) Indonesia Hadapi MEA 2015

Dalam kerjasama ekonomi ASEAN, salah satu sektor utama yang saat ini terus dikembangkan adalah sektor industri. Inilah peluang yang dapat Indonesia manfaatkan mengingat sektor industri manufaktur berbasis sumber daya alam adalah salah satu kekuatan yang Negara kita miliki. Keunggulan Indonesia dari segi produktifitas, keuntungan demografi dan lokasi yang strategis bahkan telah mendapat pengakuan kalangan internasional.


Sehubungan dengan kawasan ASEAN yang menjadi pasar tunggal dan basis produksi, tahun 2005 ASEAN telah mengidentifikasi 12 sektor-sektor prioritas integrasi (Priority Integration Sector/PIS). Ke-12 sektor tersebut meliputi: produk berbasis agro (agro-based), otomotif (automotive), elektronika (electronic), perikanan (fisheries), pelayanan kesehatan (healthcare), teknologi informasi dan komunikasi (ICT), produk berbasis karet (rubber-based), tekstil dan pakaian (textile and apparel), produk berbasis kayu (wood-based), transportasi udara (air travel), pariwisata (tourism), serta pelayanan logistik (logistic services). Dalam hal ini, Indonesia menjadi country coordinator untuk sektor otomotif dan produk berbasis kayu.

Sebenarnya, kesiapan Indonesia dalam menghadapi MEA 2015 dan berbagai tantangannya sangat bergantung pada ikut berperannya masing-masing sektor perekonomian dalam mendukung suksesnya implementasi MEA 2015. Dalam hal ini, penulis senang menyoroti sektor industri dengan produk berbasis kayu dan rotan yang, menurut Direktorat Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, sudah siap menghadapi MEA 2015.

Menurut Pranata, Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan, MEA menjadi peluang bagi industri kreatif rotan membuka pasarnya di ASEAN seluas-luasnya meski pun industri kreatif rotan sudah mendunia tapi dengan adanya pasar bebas peluangnya akan lebih besar lagi terutama di negara ASEAN. Apalagi Indonesia mempunyai keunggulan di bahan baku, sehingga jika industrinya dapat dikejar maka kita kan menjadi raja pada pasar bebas ASEAN nanti.

Senada dengan Pranata, Tanra Tellu, Ketua Pusat Inovasi Rotan Nasional (Pirnas) yakin dengan kesiapan industri rotan khususnya mebel dan papan rotan untuk bersaing di pasar bebas ASEAN ketika MEA diberlakukan. Alasan pertama, negara-negara ASEAN tidak ada yang punya potensi rotan alam yang besar dan berkualitas selain Indonesia. Indonesia memasok sekitar 80 persen kebutuhan rotan dunia. Sebanyak 60-an persen rotan Indonesia berasal dari Sulawesi Tengah. Alasan kedua, Indonesia dewasa ini terus mengembangkan berbagai inovasi di bidang desain dan juga jenis produk sehingga lebih diminati pasar global. Selain inovasi dalam desain, Pirnas juga menemukan produk baru rotan yang sangat disukai pasar global yakni papan rotan. Jadi, tidak perlu khawatir sewaktu terjadi banjir investor ASEAN ke Indonesia untuk membangun industri rotan saat MEA diberlakukan karena industri dalam negeri sudah semakin siap bersaing.

Dari alasan-alasan yang dituturkan, penulis mengambil kesimpulan bahwa sektor industri produk berbasis kayu (wood-based) masih memiliki peluang yang bagus untuk turut mewujudkan Indonesia menjadi kawasan ekonomi yang stabil, makmur, dan berdaya saing tinggi di antara Negara-negara anggota ASEAN.

Peluang Sektor UKM Industri Kreatif Furnitur Multifungsi dan Produk Interior Berbasis Kayu dan Rotan

Perekonomian ASEAN selama ini senantiasa disokong oleh usaha kecil dan menengah (UKM). Indonesia sendiri turut memberi sumbangsih dalam hal ini. Sesuai data terakhir dari Disperindagkop DIY, di wilayah Yogyakarta saja terdapat 83.000 orang yang telah terjun di sektor UKM. Dengan pertumbuhan penduduk Indonesia yang sangat tinggi, UKM memang penting sekali digalakkan sebagai salah satu langkah membuka lapangan kerja. Selain itu, dengan banyaknya potensi sumber daya manusia (SDM) yang unggul, sektor UKM industri kreatif pun dapat berkembang. Oleh karena itu, penulis menganggap UKM sebagai cara yang praktis, bersifat berkesinambungan, dan progresif untuk membawa Indonesia mengikuti budaya persaingan usaha dalam MEA 2015.
indah-table-close2.jpg IMG_20150119_085706.jpg

Terkait dengan sektor industri produk berbasis kayu (wood-based), penulis memberi penekanan pada produk furnitur multifungsi dan produk interior asli Indonesia berbahan dasar kayu dan rotan. Produk-produk furnitur multifungsi seperti kursi sekaligus rak buku, sofa bed konvertibel sekaligus laci, kursi rotan sekaligus laci, dan lainnya. Sedangkan produk-produk interior seperti meja, lampu hias, dan lainnya.

sofa rotan 2.jpg

Menurut Panggah Susanto, Direktur Industri Agro Kemenperin dalam sambutannya untuk pameran furniture dan produk interior di Plaza Kemenperin, Jakarta Selatan (November 2014), industri furnitur merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki nilai tambah tinggi dan mampu menyerap banyak tenaga kerja sekaligus memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, baik dalam bentuk kontribusi pada Produk Domestik Bruto maupun perolehan devisa ekspor.


Tantangan dan Implementasi Sektor Industri Kreatif Produk Berbasis Kayu dan Rotan

Minimnya teknologi menjadi tantangan tersendiri bagi bisnis di sektor ini. Banyak pengrajin rotan yang masih menggunakan cara manual dalam proses pengerjaan. Namun tantangan teknologi ini justru membuka peluang-peluang yang banyak tidak disadari. Misalnya, mengingat tingginya pertumbuhan penduduk Indonesia, jika separuh dari industri padat karya yang telah berjalan memproduksi menggunakan mesin, setidaknya masih ada separuh industri yang membutuhkan tenaga manual sehingga lapangan pekerjaan tetap terbuka dan tenaga kerja dapat tetap terserap dengan stabil. Disamping itu, nilai produk furnitur dan interior asli Indonesia banyak dihargai dan diminati karena proses pengerjaannya dilakukan dengan tangan yang berbeda jika pengerjaannya dilakukan dengan mesin, sehingga terkesan klasik. Hal ini bisa menjadi nilai tambah ekspor karena semakin banyak orang yang sudah bosan dengan produk-produk minimalis.
Mengenai pendanaan, walaupun tetap merupakan tantangan sampai saat ini namun nampaknya tidak menjadi hambatan. Berikut beberapa alasan mengapa penulis merasa bahwa pendanaan dan permodalan untuk UKM sektor industri kreatif dengan produk berbasis kayu ini tidak terlalu bermasalah.
  • Dibawah payung cetak biru MEA, beberapa hasil perjanjian UKM telah dilaksanakan atas dasar pendekatan bantuan mandiri (self-help) atau saling membantu antar anggota ASEAN (ASEAN-help-ASEAN) dimana Negara anggota memobilisasi sumber-sumber daya mereka untuk melaksanakan proyek pengembangan UKM atau untuk memfasilitasi partisipasi Negara anggota ASEAN lainnya pada proyek ini.
  • Dukungan penuh dari pemerintah untuk terus mengembangkan dan memajukan industri kreatif. Mengingat presiden Indonesia saat ini (Joko Widodo) dan beberapa menteri di jajaran kabinet kerja seperti Sofjan Djalil adalah orang-orang yang mulanya berasal dari industri kreatif, mereka pasti mengetahui seluk beluk industri ini. Ini merupakan salah satu peluang untuk lebih memajukan industri kreatif nasional khususnya pada produk furnitur dan produk interior asli Indonesia.
  • Pada pemerintahan baru Presiden Joko Widodo ini, semua perbankan sudah memberikan kemudahan dan akses kepada Industri Kecil Menengah (IKM). Bahkan banyak IKM-IKM nasional yang telah menjadi sasaran perbankan ditengarai karena kreditnya tidak bermasalah.


Dengan adanya nota kesepakatan MEA, penulis berpendapat bahwa bisnis furnitur multifungsi dan produk interior merupakan peluang bisnis yang memiliki prospek bagus dalam mendukung kerjasama ASEAN di sektor industri.  Pendapat ini didukung oleh beberapa pernyataan dan keterangan, sebagaimana yang telah diuraikan di atas, bahwa sektor UKM industri kreatif dengan produk berbasis kayu (wood-based) masih memiliki peluang yang besar dalam mengangkat perekonomian Indonesia dan memberikan kontribusi besar pada perolehan devisa ekspor.


No comments:

Post a Comment