”Meniadakan pencurian
bukan hanya problem Anda, hal ini adalah problem seluruh masyarakat; semua
orang memperoleh manfaat apabila pencurian dihentikan.—”EVERY RETAILER’S GUIDE
TO LOSS PREVENTION.”
PENGUTILAN,
sebagaimana praktek buruk lainnya, cenderung mempengaruhi cara berpikir
seseorang, membuat dia membenarkan diri. Jadi, seperti halnya seorang pekebun
mencabut lalang dengan akar-akarnya, mereka yang mau berhenti mengutil perlu
mencabut cara berpikir yang buruk sampai ke akarnya. Lima pokok berikut ini
dapat membantu seorang pengutil mengubah pikirannya sehubungan dengan
pencurian.
Bantuan untuk
Mengoreksi Cara Berpikir
▪ Pertama, pengutilan
adalah pelanggaran hukum. Pencurian mungkin sudah umum di tempat seseorang
tinggal, dan ia mungkin luput dari hukuman, tetapi seorang pengutil tetap dianggap
melanggar hukum.
Apa yang
terjadi apabila banyak orang melanggar hukum? Menurut sebuah buku kuno, ”hukum menjadi
mati rasa”. Maksudnya, manfaat hukum sebagai penahan
menjadi berkurang, mengakibatkan rusaknya ketertiban masyarakat. Setiap kali
seseorang mengutil, ia merongrong fondasi masyarakat yang taat hukum. Apabila
hal ini terjadi, semua orang menderita.
▪ Kedua, mengutil
merusak kepercayaan. Ketidakjujuran semacam ini melemahkan pertalian manusia,
membuat orang sulit untuk saling memahami dan berurusan tanpa kecurigaan.
”Kesalahan
terbesar saya ialah terlalu mempercayai orang.” Inilah komentar wanita pemilik
toko pakaian setelah para pencuri membuat ia bangkrut. Ia dahulu percaya bahwa
para pelanggan dan karyawannya tidak akan mencuri darinya. Sekarang, ia merasa
bahwa kepercayaannya itu salah tempat.
Seseorang
mungkin berdusta kepada orang lain dan reputasinya sendiri jatuh di mata orang
itu. Tetapi, para pengutil menebarkan awan kecurigaan ke atas semua orang berikutnya
yang masuk ke sebuah toko. Mereka membuat orang jujur dicurigai sebagai
pengutil. Apakah menebarkan awan kecurigaan seperti itu bisa dibenarkan?
▪ Ketiga,