When you run so fast to get somewhere, you miss the fun of getting there.
Life is not a race, so take it slower.
Hear the music before the song is over.
You are part of the puzzle of someone else's life.
You may never know where you fit but others will fill the holes in their lives with pieces of you.
So if you run out of reasons to live, remember that someone else's life may never be complete without you in it.

Thursday, July 4, 2013

Fotografi Potret—Cara Pengambilan Gambar yang Baik

Tak banyak yang lebih dihargai selain daripada potret teman-teman dan anggota keluarga tercinta. Sebenarnya, potret yang bermutu tidak dihasilkan dari asal jepret saja; potret yang bermutu merupakan gambar yang dimaksudkan untuk mengabadikan setiap unsur kepribadian seseorang!
Masalahnya adalah bahwa potret yang dibuat secara profesional cenderung mahal harganya—tak terjangkau oleh beberapa di antara kita. Dan bila Anda mencoba sendiri untuk membuat potret, Anda akan mendapati bahwa rupanya jauh lebih banyak yang terlibat daripada sekadar membidik dan menjepret. Ini karena potret yang baik tidak hanya mencakup subjeknya tetapi juga pencahayaan, latar belakang, tata letak, pose, ekspresi wajah, dan warna.
Namun, jika Anda mempunyai kamera dan bersedia mempelajari beberapa teknik dasar, Anda dapat menghasilkan potret yang memuaskan. Bagaimana caranya? Untuk menjawabnya, kami akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada seorang fotografer potret profesional yang telah berpengalaman lebih dari sepuluh tahun dalam bidang ini.
Pertama-tama, apa resepnya untuk membuat seseorang tersenyum di depan kamera? Pastikan agar sang model merasa nyaman untuk difoto! Misalkan, Anda hendak memotret seorang gadis kecil. Jika ia lelah atau lapar, adalah sulit untuk memintanya bergaya di depan kamera. Lagi pula, kelelahan dapat menyebabkan ketegangan pada wajah dan matanya, yang akan mengurangi mutu gambar. Maka anjurkan dia agar beristirahat sejenak dan makan makanan kecil sebelum acara foto dimulai.
Ada baiknya untuk berinteraksi dengan sang model. Hendaklah bersikap gembira dan riang. Buatlah ia merasa rileks dengan mengajaknya bercakap-cakap, tetapi jangan buat dia tertawa terpingkal-pingkal. Hal ini dapat menyebabkan matanya menyipit dan membuat darah berkumpul di wajahnya. Cobalah memotret berbagai ekspresi wajah. Semakin banyak foto yang Anda ambil, semakin banyak pula peluang untuk mendapatkan rupa yang paling baik untuk mencirikan orang itu.
Bagaimana dengan pakaian dan dandanan? Sehubungan dengan potret sekelompok orang, daya tariknya ada pada keselarasan warna. Misalnya, jika Anda mengambil foto sebuah keluarga, sarankan agar mereka mengenakan pakaian dengan warna-warna senada. Atau mungkin anjurkan mereka mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Namun, ingatlah bahwa orang yang gemuk paling cocok mengenakan pakaian berwarna gelap dan orang yang ramping paling cocok dengan pakaian berwarna terang.
Anda juga harus memperhatikan hal-hal kecil: Apakah pakaian yang dikenakan cukup rapi, dan tidak kusut? Apakah dasinya terpasang rapi? Apakah rambutnya tersisir rapi? Rambut yang berantakan mungkin tidak tertangkap oleh mata Anda, tetapi tidak demikian halnya oleh kamera! Jika sang model adalah wanita, apakah rias wajahnya sudah sesuai?
Bagaimana dengan orang yang mengenakan kacamata? Karena adanya cahaya yang menyilaukan, hal ini dapat menjadi masalah. Pertama, lihatlah lewat jendela pembidik untuk memastikan apakah ada cahaya yang menyilaukan yang tidak diinginkan. Jika demikian, mintalah sang model memutar kepalanya perlahan-lahan hingga tidak ada lagi pantulan pada tengah-tengah matanya. Kadang-kadang, dengan meminta sang model menurunkan dagunya, itu akan membantu—tetapi berhati-hatilah agar jangan sampai sang model terlalu menunduk!
• Apakah benda-benda pada latar belakang ada pengaruhnya? Pasti! Latar belakang yang ramai, sarat dengan kabel listrik, jalanan, atau mobil akan sangat mengurangi daya tarik foto Anda. Maka carilah latar belakang yang dapat memperkuat atau menambah daya tarik subjek foto Anda, misalnya pohon, semak yang berbunga, pagar kayu, atau bahkan sisi samping dari sebuah lumbung tua.
• Bagaimana jika Anda hendak mengambil foto di dalam ruangan? Anda dapat meminta sang model untuk duduk di kursi atau sofa dengan latar belakang dinding berwarna terang atau tanaman di dalam ruangan. Khususnya menarik sekali untuk memotret seseorang sewaktu ia sedang asyik bekerja atau melakukan suatu hobi atau aktivitas kesukaannya, dengan meja kerja, meja tulis, atau peralatan jahit-menjahit sebagai latar belakang.
• Bagaimana jika Anda tidak dapat menemukan latar belakang yang menarik? Cobalah buat agar latar belakang tampak kabur. Hal ini cocok sekali untuk potret di luar ruangan sehingga Anda dapat menempatkan model pada jarak tertentu dari latar belakang. Lakukanlah hal ini dengan menyesuaikan f-stop, atau celah bulat lensa. Nomor f-stop yang lebih kecil, seperti f5,6, akan menyebabkan modelnya menjadi tampak tajam tetapi latar belakangnya menjadi tampak kabur.
Apakah ada saran untuk komposisi? Pertama-tama, sangat membantu bila kamera Anda dipasang pada sebuah tripod; kemudian Anda dapat lebih memusatkan perhatian pada komposisi. Pada umumnya, jenis-jenis potret dapat digolongkan menjadi seluruh badan, tiga perempat (dari pinggang ke atas), atau pas foto (kepala dan bahu atau hanya kepala). Semua lensa antara 105 dan 150 milimeter sangat cocok untuk foto potret. Jika Anda tidak dapat menyesuaikan atau mengubah lensa pada kamera Anda, hendaklah mendekat atau menjauh dari model Anda hingga Anda mendapat gambar yang Anda inginkan. Juga, sewaktu memotret, jangan lupa untuk selalu menyisakan ruang di atas kepala sang model, di sekeliling sisinya, dan di bawah kakinya. Dengan cara ini, kepala, kaki atau badan sang model tidak terpenggal bila Anda memperbesar foto itu. Ketahuilah, semakin Anda perbesar sebuah foto, semakin banyak dari bagian gambar itu hilang, bergantung dari besarnya ruang yang tersisa pada foto itu dalam proses pembesaran.
Satu pedoman praktisnya adalah apa yang disebut aturan sepertiga. Hal ini mencakup menempatkan wajah atau mata dari model Anda sepertiga dari jarak atas, bawah, atau sisi gambar. Akan tetapi, kadang-kadang cocok sekali menempatkan mata di tengah-tengah potret.
• Bagaimana mengatur pose sang model? Aturlah agar model Anda menghadap kamera dalam posisi rileks, entah itu duduk, berdiri, atau bersandar, tetapi agak menghadap ke samping. Jika wajahnya tampak terlalu bundar, atur agar sang model sedikit memutar kepala atau tubuhnya sehingga hanya setengah dari wajahnya yang terkena cahaya. Bagian wajahnya yang tidak kena cahaya hendaknya harus berada paling dekat dengan kamera. Hal ini akan membuat wajahnya tampak lebih ramping. Sebaliknya, jika Anda ingin membuat agar wajahnya kelihatan lebih penuh, aturlah sang model memutar kepala atau tubuhnya hingga cahaya menerangi seluruh wajahnya.
Beri perhatian khusus pada tangan sang model. Tangan hendaknya tampak rileks dan berada pada posisi yang wajar bagi model Anda, misalnya diletakkan dengan lembut pada dagu atau pada sisi samping wajah. Jika orang itu berdiri, hindari kesalahan yang umum dengan menempatkan lengan tergantung pada kedua sisinya dengan tangan mengarah lurus ke bawah. Lebih baik atur agar tangan memegang sesuatu atau berada pada pose yang wajar.
• Apakah ada saran untuk memotret dua orang? Cobalah atur agar mereka memiringkan kepala mereka sedikit ke arah satu sama lain. Biasanya, sangat dianjurkan agar tidak menempatkan mereka berdua pada tinggi yang sama. Anda dapat mencoba menaruh mereka sehingga mata dari orang yang satu setinggi hidung dari orang yang lain.
• Bicara soal pencahayaan, kapan saat yang paling baik untuk mengambil foto di luar ruangan? Senja hari. Cuaca biasanya tenang, dan warna cahaya lebih lembut. Cobalah tempatkan teman Anda sedemikian rupa sehingga cahaya matahari menerangi salah satu sisi wajahnya, membentuk segitiga cahaya yang menerpa sisi wajahnya yang tak terkena cahaya. Hal ini mencegah orang tersebut agar tidak menyipitkan matanya. Jika Anda ingin mengambil foto wajah, pindahkan posisi kamera Anda ke sebelah sisi yang gelap dari wajah. Jangan lupa, pastikan agar kamera Anda terlindung dari cahaya matahari.
• Bagaimana jika cahayanya terlalu menyilaukan? Upayakan menempatkan model Anda sedemikian rupa sehingga matahari ada di belakangnya.
• Bukankah itu akan menyebabkan wajahnya tampak gelap? Ya, tetapi Anda dapat menggunakan lampu kilat untuk menerangi daerah yang gelap. Beberapa kamera melakukan hal ini secara otomatis. Cara lain adalah meminta bantuan seorang teman. Ia dapat memegang reflektor atau selembar besar kertas karton berwarna putih dan memantulkan bauran cahaya matahari ke arah wajah model Anda.
• Bagaimana dengan pencahayaan di dalam ruangan? Anda dapat menggunakan cahaya alami dengan menempatkan model Anda di samping jendela. Sebuah tirai dapat berfungsi untuk membaurkan cahaya. Jika perlu, Anda dapat menggunakan lampu kilat fill-in atau sebuah reflektor dari kertas karton untuk menerangi bagian-bagian wajah yang tampak terlalu gelap.—Lihat foto 5.
• Bagaimana jika tidak ada cukup cahaya? Dalam situasi demikian, Anda harus menggunakan lampu kilat. Usahakan agar model Anda berada dekat dinding berwarna putih. Miringkan lampu kilat agar cahaya memantul dari dinding samping. Dengan cahaya datang dari arah samping, Anda akan lebih dapat mengatur seberapa banyak cahaya yang diperlukan untuk menerangi wajah.
Memang, dibutuhkan upaya coba dan ralat untuk mendapatkan hasil yang baik. Tetapi prinsip-prinsip dasar fotografi potret itu sederhana. Dengan perencanaan yang saksama dan perhatian kepada hal-hal kecil, Anda, bahkan dengan kamera yang paling sederhana, dapat menghasilkan potret yang baik—yang akan dihargai selama bertahun-tahun kemudian oleh Anda dan orang-orang yang Anda kasihi!



Sumber:
Sedarlah!


Apa yang Dijelaskan Teori Big Bang dan Apa yang Tidak Dijelaskannya

SETIAP pagi terjadi keajaiban. Jauh di dalam mentari di pagi hari, hidrogen dilebur menjadi helium pada suhu jutaan derajat. Sinar-X dan sinar gamma yang berkekuatan luar biasa memancar dari bagian inti ke lapisan-lapisan yang mengelilingi matahari. Seandainya matahari transparan, sinar-sinar ini akan menghancurkan jalan mereka menuju permukaan matahari dalam beberapa detik saja. Sebaliknya, sinar-sinar ini mulai memantul dari atom yang sangat padat ke atom dari ”isolasi” surya, lambat laun kehilangan energi. Hari, pekan, dan abad terus berlalu. Ribuan tahun kemudian, radiasi tersebut yang dulunya memautkan akhirnya muncul dari permukaan matahari sebagai pancaran cahaya kuning yang lembut—bukan lagi suatu ancaman melainkan sangat cocok untuk memandikan bumi dengan kehangatannya.
Setiap malam juga terjadi keajaiban. Matahari-matahari lain berkelap-kelip di hamparan galaksi kita yang luas. Matahari-matahari itu berbeda-beda dalam hal warna, ukuran, suhu, dan kepadatannya. Beberapa sangat luar biasa besar, begitu besarnya sehingga jika salah satunya ditaruh tepat di posisi matahari kita, seluruh bagian dari planet kita ini akan berada di bagian dalam permukaan mega bintang itu. Matahari-matahari lain berukuran kecil hingga dinamai bintang kerdil putih—lebih kecil dari bumi kita, namun sama beratnya seperti matahari kita. Beberapa dari matahari itu akan merayap dengan tenang selama miliaran tahun. Beberapa sedang di ambang ledakan supernova yang akan menghancurkannya, yang dalam waktu singkat menerangi seluruh galaksi.
Orang-orang primitif melukiskannya dalam bentuk lambang seperti monster laut dan dewa-dewa yang berperang, seperti naga dan kura-kura serta gajah, seperti bunga teratai dan dewa-dewa yang bermimpi. Kemudian, selama periode yang disebut sebagai Abad Penalaran, dewa-dewa tersingkir oleh ”keajaiban” baru dari kalkulus dan hukum Newton. Sekarang kita hidup di zaman yang telah meniadakan puisi dan legenda kuno. Anak-anak dari abad atom sekarang ini telah memilih paradigma mereka untuk penciptaan, bukan monster laut kuno, bukan pula ”mesin”-nya Newton, melainkan simbol keseluruhan dari abad ke-20—bom. ”Pencipta” mereka adalah sebuah ledakan. Mereka menyebut ledakan kosmis itu sebagai big bang.

Apa yang ”Dijelaskan” Big Bang

Versi yang paling populer dari sudut pandangan generasi ini sehubungan dengan penciptaan menyatakan bahwa kira-kira 15 hingga 20 miliar tahun yang lalu, jagat raya belum ada, ruang hampa pun belum ada. Tidak ada waktu, tidak ada materi—tidak ada apa-apa kecuali titik yang sangat kecil, sangat padat yang disebut suatu ketunggalan, yang meledak menjadi jagat raya yang ada sekarang ini. Ledakan itu meliputi jangka waktu yang sangat singkat selama sepersekian detik pertama pada waktu jagat raya yang masih bayi mengembang atau meluas, jauh lebih cepat daripada kecepatan cahaya.
Selama beberapa menit pertama dari big bang, fusi nuklir terjadi pada skala universal, sehingga hidrogen dan helium serta sekurang-kurangnya sebagian dari litium mencapai kadar yang ada sekarang dalam ruang antarbintang. Setelah kira-kira 300.000 tahun, ledakan pada skala universal ini mereda menjadi sedikit di bawah suhu dari permukaan matahari, memungkinkan elektron-elektron tetap berada pada orbit di sekeliling atom dan melepaskan kilasan foton atau cahaya. Cahaya yang mula-mula itu sekarang dapat diukur, meskipun suhunya telah jauh lebih rendah, sebagai radiasi latar belakang universal pada frekuensi gelombang mikro yang sama dengan suhu 2,7 Kelvin. Sebenarnya, penemuan dari radiasi latar belakang ini pada tahun 1964-65 meyakinkan sebagian besar ilmuwan bahwa teori big bang ada benarnya. Teori itu juga menyatakan dapat menjelaskan mengapa jagat raya tampaknya cenderung meluas ke segala arah, sehingga galaksi-galaksi yang jauh seakan-akan berlomba menjauhi kita dan menjauhi satu sama lain pada kecepatan tinggi.
Karena teori big bang tampaknya dapat menjelaskan begitu banyak hal, mengapa harus diragukan? Karena banyak juga yang tidak dapat dijelaskan oleh teori ini. Sebagai ilustrasi: astronom zaman dahulu, Ptolomeus mempunyai sebuah teori bahwa matahari dan planet mengelilingi bumi dalam lingkaran besar, membuat lingkaran kecil, yang disebut episiklus, pada saat yang bersamaan. Teori itu tampaknya dapat menjelaskan pergerakan planet-planet. Selama berabad-abad seraya para astronom mengumpulkan lebih banyak data, para kosmolog yang menganut teori Ptolomeus selalu dapat menambahkan episiklus tambahan ke episiklus mereka yang lain dan ”menjelaskan” data baru ini. Tetapi itu tidak berarti bahwa teori itu benar. Akhirnya ada begitu banyak data untuk dijelaskan, dan teori-teori lain, seperti gagasan Copernicus bahwa bumi mengelilingi matahari, menjelaskan berbagai hal dengan lebih baik dan lebih sederhana. Dewasa ini, sukar untuk menemukan seorang astronom yang menganut teori Ptolomeus!
Profesor Fred Hoyle menyamakan upaya para kosmolog yang menganut teori Ptolomeus yang meneguhkan kembali teori mereka yang gagal ketika menghadapi penemuan-penemuan baru dengan upaya para penganut big bang dewasa ini untuk membuat teori mereka tetap terpakai. Ia menulis dalam bukunya The Intelligent Universe, ”Upaya-upaya utama dari para penyelidik selama ini menutupi kontradiksi di dalam teori big bang, untuk membuat gagasan yang telah menjadi semakin rumit dan bertele-tele.” Setelah mengacu pada penggunaan episiklus Ptolomeus yang sia-sia untuk menyelamatkan teorinya, Hoyle melanjutkan, ”Saya sedikit enggan mengatakan bahwa sebagai akibatnya awan gelap kini menggantung di atas teori big bang. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, bila pola dari fakta-fakta mulai bertentangan dengan suatu teori, pengalaman memperlihatkan bahwa teori tersebut jarang digunakan kembali.”—Halaman 186.
Majalah New Scientist edisi 22/29 Desember 1990, mengumandangkan gagasan serupa, ”Metode Ptolomeus sangat serupa dengan . . . model kosmologis teori big bang.” Artikel itu kemudian bertanya, ”Bagaimana kita dapat mencapai kemajuan nyata dalam fisika partikel dan kosmologi? . . . Kita harus lebih jujur dan terus terang tentang sifat spekulatif murni dari beberapa asumsi yang paling kita anut.” Observasi-observasi baru kini bermunculan.

Pertanyaan-Pertanyaan yang Tidak Dapat Dijawab Teori Big Bang

Tantangan utama bagi big bang datang dari para pengamat yang menggunakan peralatan optik yang telah diperbaiki Teleskop Ruang Angkasa Hubble untuk mengukur jarak ke galaksi-galaksi lain. Data baru ini membuat para teoretikus merasa ciut!
Astronom Wendy Freedman dan yang lain-lain baru-baru ini menggunakan Teleskop Ruang Angkasa Hubble untuk mengukur jarak ke suatu galaksi dalam gugus Virgo, dan hasil pengukurannya memperlihatkan bahwa jagat raya meluas lebih cepat, dan karena itu usianya lebih muda, daripada yang diperkirakan sebelumnya. Sebenarnya, data baru itu ”menunjukkan secara tidak langsung abad kosmos sedikitnya berusia delapan miliar tahun”, demikian laporan majalah Scientific American bulan Juni lalu. Walaupun delapan miliar tahun kedengarannya sangat lama, ini hanya kira-kira setengah dari usia jagat raya yang baru-baru ini diperkirakan. Hal ini menimbulkan suatu problem khusus, karena, sebagaimana selanjutnya dikatakan laporan itu, ”data lain menunjukkan bahwa bintang-bintang tertentu berusia sekurang-kurangnya 14 miliar tahun”. Jika perhitungan Freedman terbukti benar, bintang-bintang yang lanjut usia itu ternyata lebih tua usianya dari big bang itu sendiri!
Masalah lain lagi sehubungan dengan big bang adalah semakin banyaknya bukti tentang ”gelembung-gelembung jagat raya yang berukuran 100 juta tahun cahaya, dengan galaksi-galaksi di sebelah luar dan ruang kosong di sebelah dalam. Margaret Geller, John Huchra, dan lain-lain di Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics telah menemukan apa yang mereka sebut dinding besar dari galaksi-galaksi yang panjangnya kira-kira 500 juta tahun cahaya melintasi langit belahan bumi utara. Kelompok astronom lain, yang dikenal sebagai Tujuh Samurai, telah menemukan bukti konglomerasi kosmis yang berbeda, yang mereka sebut Great Attractor (Penarik Besar), terletak dekat bagian selatan dari gugus Hydra dan gugus Centaurus. Astronom Marc Postman dan Tod Lauer yakin bahwa ada sesuatu yang bahkan lebih besar pasti terletak di luar gugus Orion, yang menyebabkan ratusan galaksi, termasuk galaksi kita, mengalir di luar Orion bagaikan rakit pada semacam ”sungai di ruang angkasa”.
Semua struktur ini membingungkan. Para kosmolog mengatakan bahwa letusan dari big bang sangat halus dan seragam, berdasarkan radiasi latar belakangnya yang diduga terjadi belakangan. Bagaimana mungkin permulaan yang halus demikian telah mengarah kepada struktur yang besar dan rumit sedemikian? ”Ditemukannya banyak dinding dan banyak penarik baru-baru ini memperkuat misteri tentang bagaimana mungkin struktur yang begitu banyak dapat terbentuk dalam waktu 15 miliar tahun dari jagat raya,” demikian pengakuan Scientific American—masalah yang hanya akan memburuk apabila Freedman dan lain-lain masih lagi mengurangi perkiraan usia kosmos.

”Kami Kekurangan Unsur Dasar Tertentu”

Peta-peta tiga dimensi dari Geller yang terdiri dari ribuan gumpalan galaksi yang berkelompok, bercampur aduk dan bergelembung telah mengubah cara para ilmuwan menggambarkan jagat raya. Ia sungguh-sungguh tidak mengerti apa yang ia lihat. Gravitasi saja tampak tidak dapat menjelaskan adanya dinding galaksi yang besar pada petanya. ”Saya sering merasa kami kekurangan unsur dasar tertentu dalam upaya kami untuk memahami struktur ini,” demikian pengakuannya.
Geller menjabarkan keragu-raguannya, ”Kami benar-benar tidak tahu cara menafsirkan struktur besar menurut konteks Big Bang.” Interpretasi dari struktur kosmis berdasarkan pemetaan angkasa baru-baru ini sangat tidak pasti—mirip seperti memetakan seluruh dunia berdasarkan suatu survei di Rhode Island, AS. Geller melanjutkan, ”Suatu hari kami mungkin mendapati bahwa kami belum menyusun potongan-potongan data secara benar, dan bila kami berhasil melakukannya, kami akan terheran-heran mengapa hal itu tidak terpikirkan sejak dulu.”
Hal itu mengarah pertanyaan terbesar: Apa yang diduga telah menyebabkan terjadinya big bang itu sendiri? Andrei Linde, pakar yang paling disegani yang adalah salah seorang pencetus versi inflasi yang sangat populer sehubungan dengan teori big bang, dengan terus terang mengakui bahwa teori standar itu tidak membahas pertanyaan dasar ini. ”Problem pertama, dan yang utama adalah pemunculan awal dari big bang,” katanya. ”Orang mungkin bertanya-tanya, Apa yang ada sebelum itu? Jika waktu-ruang belum ada pada waktu itu, bagaimana mungkin segala sesuatu muncul dari ketiadaan? . . . Menjelaskan ketunggalan awal ini—di mana dan kapan semua itu terjadi—masih tetap merupakan masalah kosmologi modern yang paling tidak dapat diatasi.”
Suatu artikel provokatif dalam majalah Discover baru-baru ini menyimpulkan bahwa ”tidak ada kosmolog yang berpikiran sehat yang akan menyatakan bahwa Big Bang adalah teori mutlak”.
Sekarang mari kita pergi ke luar rumah dan merenungkan keindahan dan misteri dari langit berbintang yang membentang.



Kelvin adalah satuan skala suhu yang derajatnya sama dengan derajat pada skala suhu Celsius, tetapi skala Kelvin mulai pada angka nol mutlak, yaitu 0 K—sama dengan -273,16 derajat Celsius. Air membeku pada 273,16 K dan mendidih pada 373,16 K.


Tahun Cahaya−Standar Perhitungan Kosmis

  Jagad raya begitu besar sehingga jika mengukurnya dengan mil atau kilometer sama halnya seperti mengukur jarak dari London ke Tokyo dengan mikrometer. Satuan ukur yang lebih cocok adalah tahun cahaya, jarak tempuh perjalanan cahaya dalam satu tahun, atau kira-kira 9.460.000.000.000 kilometer. Karena cahaya adalah yang paling cepat di alam semesta dan hanya membutuhkan waktu 1,3 detik untuk mencapai bulan dan kira-kira 8 menit untuk mencapai matahari, tahun cahaya tampaknya benar-benar luar biasa untuk dibayangkan!



Sumber:
Sedarlah!


MENGAPA KORUPSI SULIT DIBERANTAS DI INDONESIA (PATOLOGI SOSIAL)

“Indonesia Ada di Peringkat 56 Negara Terkorup Dunia tahun 2012”.

Demikianlah headline pada salah satu situs online berita nasional. Sungguh bukan suatu prestasi yang patut dibanggakan.  Dari zaman Indonesia belum merdeka hingga saat ini, tidak ada wabah virus yang lebih menjamur dan mematikan dibanding dengan virus korupsi. Maka cocok apabila korupsi dianalogikan sebagai “patologi sosial”, penyakit menular yang telah menjangkiti masyarakat.

Perilaku korupsi seperti telah menjadi tradisi yang mendarah-daging dan berurat-berakar di tiap-tiap aspek kehidupan masyarakatnya. Baik di sektor negeri maupun swasta. Mulai dari pejabat kelurahan hingga eksekutif dan legislatif negara. Tidaklah sulit untuk mencari contoh nyatanya. Di berbagai kegiatan sekitar kita sehari-hari sering ditemui perilaku-perilaku yang terkategorikan sebagai tindak korupsi, misalnya penjual di pasar tradisional yang mencurangi timbangan barang dagangannya agar memperoleh keuntungan lebih.

Undang-undang antikorupsi sudah dikembangkan dimana-mana. Pemerintah juga sudah mengintegrasikan upaya anti korupsi yang memprioritaskan aturan yang lebih baik dalam negoisasi dan pembiayaan politik, anggaran publik, membuat kontrak proyek lebih transparan, serta membuat lembaga yang lebih akuntabel pada rakyat. Tapi kenyataannya, hukum belum juga bisa memberantas korupsi. Jutaan uang suap tetap berpindah tangan setiap harinya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa banyak perusahaan-perusahaan yang mengalokasikan sepersekian dari seluruh keuntungan mereka hanya untuk menyuap para birokrat pemerintah yang korup. Lagi-lagi yang tertindas adalah rakyat miskin.

Apa Penyebab Korupsi?

Bagi beberapa oknum, kemungkinan inilah jalan pintas yang paling gampang—atau jalan satu-satunya—untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan secara instan. Akhirnya korupsi semakin berterima, hingga akhirnya menjadi gaya hidup masyarakat. Mirisnya, Indonesia adalah negara kaya, tapi pemerintahan dengan utang yang melilit negara membuat rakyat terjerembab dalam jurang kemiskinan permanen. Faktor inilah yang menumbuh-kembangkan pandangan “jalan pintas”. Dan, pada umumnya orang segan memberantas korupsi karena orang yang membayar maupun yang menerima suap tidak dihukum.
.
Ada 2 hal utama yang membuat korupsi terus merajalela dan berkembang: (1) sikap mementingkan diri, (2) ketamakan. Orang-orang yang korup cenderung tutup mata terhadap akibat perbuatannya, dengan sengaja bersikap tidak peduli terhadap penderitaan orang lain, dan membenarkan korupsi semata-mata karena mereka mendapatkan keuntungan dari perbuatannya. Semakin banyak keuntungan materi yang mereka timbun, semakin tamaklah para koruptor ini (pola pikir materialistik).

Belum lagi pola hukum yang ditinggalkan oleh penjajah Belanda yang memihak oknum-oknum pelaku korupsi (mengingat dulu merekalah pelaku tindakan tersebut). Pola hukum yang amburadul baik dari sisi sistem penegakan maupun para penegaknya sangat menguntungkan bagi para koruptor di Indonesia. Budaya korupsi pun kian subur.

Kondisi diperparah dengan lembeknya hukuman bagi para koruptor. Korupsi miliyaran sampai triliunan dan hanya dihukum beberapa tahun saja? Lembeknya hukum menyebabkan pandangan masyarakat mengenai pentingnya kejujuran memudar. Akhirnya masyarakat memandang bahwa melakukan korupsi itu menguntungkan karena walaupun tertangkap hukumannya ringan dan selanjutnya dapat kembali melanjutkan hidup nyamannya.

Bagaimana Korupsi Mewabah?

Sebagai patologi sosial, korupsi akan mewabah dengan 2 cara:
  1. Secara kultural.

Individu mempunyai peranan dalam proses mempengaruhi lingkungan sosial yang selanjutnya lingkungan sosial akan mempengaruhi individu lain.

Jika individu yang berinteraksi dengan individu lain dalam komunitas, dimana individu tersebut mengalami kecanduan materi, maka interaksi tersebut mengakibatkan self organizing. Yaitu suatu kondisi dimana individu menyesuaikan dengan perilaku oleh orang lain dalam komunitas tersebut. Bisa dikatakan bahwa self organizingini merupakan awal pijakan adanya konfirmitas individu terhadap kelompok atau anggota kelompoknya. Hal ini pulalah yang menyebabkan wabah kecanduan materi berkembang dari individu (mikrosistem) ke komunitas yang lebih luas (makrosistem). Inilah yang disebut sebagai kecanduan materi sebagai ’virus’ yang menyebarkan penyakit korupsi.

     2.   Secara struktural (struktur organisasi suatu bangsa dan negara yang dikelola oleh pemerintah).

Pengelolaannya ini diwujudkan dalam aturan-aturan atau birokrasi untuk tatanan masyarakat. Perilaku korupsi yang dimunculkan oleh kecanduan materi jika ditinjau dari sumber penyebab struktural adalah adanya contoh birokrasi yang berbelit atau sengaja dibuat berbelit untuk membuka peluang adanya korupsi-manipulasi. Rupanya struktural (baca: pemerintah) perlu menyadari adanya peluang birokrasi sebagai wadah menyalurkan ketagihan terhadap material. Adanya penyalahgunaan kekuasaan untuk pelaksanaan tender pengadaan, mekanisme birokrasi yang obesitas dalam mengurus kepentingan publik, ataupun pungutan-pungutan liar menunjukkan peluang untuk oknum-oknum aparat pemerintahan merasakan ketagihan materi. Praktek mafia birokrasi ini yang menyebabkan ’virus’ korupsi semakin merajalela.

“Ada Uang, Urusan Lancar”


Dewasa ini, segala sesuatu selalu dihargai dengan materi yang menyebabkan meningkatnya jiwa materialistis masyarakat. Semboyan pelayanan yang umum ini menyebabkan individu semakin terbius dengan kenikmatan-kenikmatan materi. Memang pada hakikatnya, individu mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan materialnya dalam mempertahankan hidup. Segala kebutuhan primer, sekunder hingga tersier membutuhkan materi untuk memenuhinya. Kondisi ini yang membuat manusia secara tidak sadar menghargai segala sesuatu dengan materi. Materi inilah yang membuat individu terlena dengan pemenuhan segala kebutuhan yang tidak pernah terpuaskan. Pada akhirnya, bagaikan obat bius yang menyebabkan ketagihan maka individu sesungguhnya sudah masuk dalam jeratan kecanduan materi. Siapa yang patut disalahkan? Dalam hal ini, kita sebagai anggota masyarakat yang membiasakan individu lain merasakan kenikmatan material akan menjerumuskan individu bahkan akhirnya komunitas masyarakat dalam kecanduan materi (material addicted). Meskipun tiada kita pungkiri bahwa setiap manusia menginginkan adanya kemudahan dan kelancaran dalam urusannya tanpa birokrasi yang berbelit atau sengaja dibuat berbelit.


Referensi:
Sedarlah!



UNTUNG-RUGINYA MENALANGI (MEM-BAILOUT) BANK CENTURY

Progres kasus dana talangan (bail out) untuk Bank Century hingga kini masih membuat baik para ekonom handal sampai masyarakat awam menjadi ‘gerah’. Benang merahnya masih sama:
Kasus Bank Century adalah ibarat merawat orang sakit yang sudah mencapai stadium akhir dengan harapan untuk selamat sangat kecil.
Opsi urgent yang harus diambil adalah antara ‘selamatkan’ atau tutup. Dan dalam hal ini aksi heroik Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) atas rekomendasi dari Bank Indonesia untuk mem-bail out dalam rangka menyelamatkan bank ini menuai berbagai pro dan kontra. Ada pihak yang menyatakan ‘untung’, yang lain menyatakan ‘rugi’ jika menalangi bank Century.

Penyelamatan Century: PRO dan KONTRA

PRO: Kebijakan bail out Bank Century memang sudah tepat.
Pendapat tersebut didasarkan pada teori-teori ekonomi yang telah diterapkan pada kasus Bank Century, yang intinya bahwa apabila Bank Century tidak segera diselamatkan akan berdampak sistemik bagi dunia perbankan Indonesia.
Lagipula, para ekonom dengan asumsi-asumsinya menyatakan bahwa skenario penyelamatan bisa jadi yang paling murah ongkosnya, sedangkan biaya penutupan bisa lebih mahal (diperkirakan lebih dari Rp 5 triliun). Berikut beberapa pihak yang menyetujui dan turut terlibat dalam pengucuran dana talangan ini:
  •         Bank Indonesia

"Meski tetap terjadi perbedaan pendapat soal Century bersifat sistemik atau tidak, namun beberapa hal yang mengemuka dalam diskusi itu," kata Tony Prasetiantono, dalam rilisnya ke Persda. Menurut dia bail out Bank Century sudah benar sebab kalau tidak negara akan rugi Rp 30 triliun. "Jika penutupan dilakukan, kerugian bisa mencapai Rp 30 triliun, karena efek menular. Saya menggarisbawahi bahwa tidak mungkin krisis Century dapat dilalui tanpa kerugian. Kerugian pasti terjadi. Jadi, jangan harap nanti jika Bank Century dijual akan menghasilkan recovery rate 100 persen atau bahkan untung. Ini adalah wishful thinking yang tidak realistis," katanya.
(Kompas.com — “Century Tidak Disuntik, Negara Bakal Rugi Rp 30 T”)
  • Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

BPK sebagai badan yang bekerja secara independen tidak mau terjebak pada hipotesis-hipotesis pihak-pihak tertentu yang mencurigai talangan dana ini. Menurut anggota BPK, Hasan Bisri, banyak yang berpendapat keliru mengenai dana talangan tersebut. Ia menjelaskan, “Seolah-olah, dana tersebut seperti air dalam gentong yang dituangkan keluar. Banyak nasabah yang menyimpan dananya dalam deposito atau tabungan, akan tetapi tidak bisa diambil karena banknya krisis. Dana nasabah itu baru bisa diambil setelah pemerintah dan Bank Indonesia mengucurkan dana talangan”.
(Kompas.com — “Banyak yang Tidak Paham Dana Talangan”)
  •  Sri Mulyani maupun DPR

Ketika Bank Indonesia (Boediono) mengatakan penutupan Bank Century akan menyebabkan dampak sistemik, Menkeu Sri Mulyani maupun DPR setuju untuk menyelamatkan dan menyehatkan kembali Century. Waktu itu, tujuan penyehatannya adalah agar bank tersebut tidak berpengaruh secara sistemik terhadap perekonomian apabila bank tersebut dinilai gagal dan dilikuidasi BI dan pemerintah. Masyarakat Indonesia berharap, semoga sebagai pejabat publik, Sri Mulyani menyadari risiko dan konsekuensi yang harus dipikulnya akibat keputusannya menyehatkan Bank Century.
(Kompas.com — “Boediono, Sri Mulyani, dan Lothario Karya Multatuli”)

Dari komentar pihak-pihak yang Pro dalam pengucuran dana talangan, saya banyak menemukan alasan “ jika Bail out tidak dilakukan dan Bank Century ditutup, ini akan menyebabkan dampak sistemik”. Menurut Undang-undang (BI dan LPS), pengertian dampak sistemik adalah kegagalan suatu bank yang akan berpengaruh secara berantai terhadap perbankan nasional secara khusus dan sistem keuangan bangsa secara umum, yang pada gilirannya berpotensi memicu krisis ekonomi.

Pengamat ekonomi dan perbankan, Aviliani, menyatakan bahwa penutupan bank Century memiliki potensi dampak sistemik dalam hal pengaruhnya terhadap bank-bank lain di Indonesia. “Memang dari sisi aset, Century sangat kecil. Tidak akan berpengaruh pada bank lain. Tapi, bila kepercayaan deposan hilang akibat penutupan Century, penarikan uang besar-besaran di bank lain sangat mungkin terjadi.”

KONTRA: Kebijakan bail out kurang tepat, bahkan banyak yang mencurigai kemungkinan terdapatnya unsur-unsur pelanggaran maupun tindak pidana di dalamnya yang bersifat koruptif. Lagipula Bank Century hanyalah bank kecil yang tidak menyimpan dana perbankan nasional yang besar didalamnya. Lebih baik ditutup saja.

Banyak pertanyaan-pertanyaan bergulir mengenai mengapa pemerintah melalui LPS hanya menyelamatkan Century. Sedangkan bank-bank lain yang memiliki kriteria hampir sama (misal Bank Indover, Bank IFI) dibiarkan kolaps dan ditutup.

Dugaan konspirasi juga mudah bergulir. Diduga, Bank Century sengaja diselamatkan agar dana penyelamatan bisa sebagian dialokasikan untuk dana politik. Sebab secara kebetulan, Bank Century diselamatkan pada 21 November 2008 saat para politisi sedang menghimpun segala daya untuk persiapan pemilu legislatif April 2009 dan pemilu presiden Juli 2009.

Selain itu, pihak kontra semakin ‘gerah’ dengan pengucuran talangan yang berasal dari  dana APBN. Kembali pertanyaan lainnya muncul, apa alasannya Century mendapatkan dana sebesar itu. "Harusnya tidak dari APBN, tapi dari LPS selaku pemegang saham Bank Mutiara (nama Bank Century kini). Kalau LPS kekurangan dana, baru APBN menambah modal untuk LPS. Jika langsung dari APBN, ini nanti jadi preseden bagi bailout terhadap bank atau produk keuangan lainnya," kata Dradjad Wibowo selaku Wakil Ketua Umum PAN.

Penyelamatan Century: Untung atau Rugi?

Mengenai kebijakan untuk mem-bail out ini, saya sendiri belum pernah mendengar atau membaca adanya penyampaian analisis “benefit-cost” atau untung-ruginya dari pemerintah.
Pemerintah mengharapkan masyarakat untuk berpikir lebih rasional, dan saya rasa hal itu dapat terealisasi jika saat keputusan bail out diambil, pemerintah menjelaskan dampak apa yang akan terjadi jika di-bail out dan tidak di-bail out.
Tapi setidaknya ada 3 skema mengenai perhitungan sederhana yang bisa menjelaskan untungnya jika Bank Century diselamatkan:
skema untung-rugi penyelamatan century

Analisis: 
Dari ketiga skema itu, penyelamatan Century seharga Rp 6,7 triliun masih lebih murah daripada dua skema lainnya. Masalahnya, masih banyak orang berpikir lain, sesuai imajinasi dan keyakinan masing- masing. Biaya LPS Rp 6,7 triliun, yang mestinya dibandingkan dengan dua skema lain itu, atau dibandingkan dengan aset total sektor perbankan kita Rp 2.400 triliun dan kini dalam keadaan stabil, atau dana masyarakat di bank Rp 1.800 triliun, tetap saja dituding mahal. Jika angka ini dibandingkan dengan berapa nasi bungkus yang bisa dibeli untuk penduduk miskin, menjadi amat fantastis dan dramatis.
Sebenarnya perbandingan tersebut tidak ada metodologinya, tidak ilmiah, dan tidak sistematis. Seharusnya, pembandingnya adalah aset dan dana masyarakat di sektor perbankan yang berhasil diamankan stabilitasnya. Dengan Rp 6,7 triliun, dana masyarakat di seluruh bank di Indonesia sebesar Rp 1.800 triliun dicegah dari kepanikan dan kebangkrutan.

Nah, sungguh disayangkan lemahnya pengawasan bank menyebabkan adanya bank yang menyimpang dalam pengelolaan dananya yang akhirnya berpotensi merugikan keuangan negara. Semoga gulungan “bola salju” Century ini cepat dapat diselesaikan.

Referensi: